NEWS, UNIK  

Saat Berkurban, Bolehkah Dagingnya Dibagikan ke Keluarga?

Pembagian Daging Kurban Oleh Warga
Pembagian Daging Hewan Kurban Oleh Warga

IDENTIK.NEWS – Membagikan daging kurban kepada keluarga, menurut pandangan ulama, memiliki ketentuan yang sama dengan mengonsumsi daging hewan kurban bagi pekurban.

Hal ini berarti, ketentuan hukum pembagian daging kurban kepada keluarga memiliki perbedaan antara kurban yang wajib dan kurban yang sunnah.

Dilansir dari NU Online, jika kurban tersebut berupa kurban wajib, maka tidak boleh bagi pekurban dan keluarganya untuk mengonsumsi hewan kurban tersebut. Keseluruhan dari hewan kurban harus disedekahkan kepada orang lain tanpa terkecuali.

Sementara jika kurbannya berupa kurban sunnah, maka pekurban boleh membagikan daging kurbannya kepada keluarganya untuk dikonsumsi. Hal ini dengan catatan, selama ada kadar daging yang dibagikan pada golongan fakir miskin.

Ketentuan hukum di atas ini sebagaimana diterangkan oleh Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani dalam kitabnya yang berjudul Tausyikh ‘ala Ibni Qasim.

Keluarga yang dimaksud dalam larangan mengonsumsi daging kurban yang wajib adalah orang-orang yang wajib dinafkahi oleh pekurban. Karenanya, anggota keluarga yang tidak wajib dinafkahi oleh pekurban masih boleh menerima dan mengonsumsinya.

Sebagaimana diketahui, hukum berkurban adalah sunnah kifayah. Artinya, tuntutan dalam melaksanakan kurban dalam sebuah keluarga akan menjadi gugur saat salah satu dari anggota keluarga sudah ada yang menunaikannya.

Meskipun demikian, hal tersebut tidak berarti seluruh anggota keluarga turut mendapatkan pahala atas kurban yang dilakukan oleh salah satu perwakilan anggota keluarganya.

Pasalnya, setiap orang dalam anggota keluarga tetap disunnahkan melaksanakan kurban secara khusus, meski sudah ada perwakilan keluarganya yang berkurban. Hal ini tidak lain agar mereka mendapatkan pahala dari menyembelih hewan kurban yang diatasnamakan masing-masing dari diri mereka sendiri.

Penyembelihan hewan kurban ini mulai boleh dilakukan pada hari raya Idul Adha, sejak selesai shalat idul Adha, yakni pada tanggal 10 Dzulhijjah, hingga akhir dari tiga hari tasyrik, yaitu pada saat matahari terbenam pada 13 Dzulhijjah.

Sumber: nu.or.id 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *