GORONTALO – Polemik kepemimpinan PB HPMIG kembali mencuat setelah janji Ketua Umum PB HPMIG terpilih, Refa Koniyo, dipersoalkan kader di daerah. Janji yang sempat disampaikan pada Mubeslub HPMIG di Yogyakarta itu dinilai hanya retorika tanpa realisasi.
Dalam forum tersebut, Refa berkomitmen akan membantu setiap cabang HPMIG agar bisa mendapatkan asrama permanen maupun kontrak, sehingga mahasiswa Gorontalo yang studi di luar daerah tidak lagi kesulitan tempat tinggal.
Namun belakangan, alih-alih menepati janji, PB HPMIG justru mengalihkan sorotan dengan menyalahkan pemerintah yang disebut tidak melirik mahasiswa Gorontalo di perantauan.
Sebelumnya, Ketua Bidang Eksternal PB HPMIG, Aldy Lamusu, dalam pernyataannya menyebut bahwa pemerintah tidak memiliki perhatian serius terhadap kebutuhan asrama mahasiswa di luar daerah. Pernyataan ini kemudian memicu respons keras dari sejumlah kader di cabang.
Aldo Henga, pengurus HPMIG Cabang Manado, menilai pernyataan PB HPMIG sangat kontradiktif dengan janji awal kepemimpinan Refa.
“Kalau dulu Ketua Umum bilang siap membantu menyediakan asrama, sekarang kenapa malah pemerintah yang disalahkan? Itu sama saja meludahi wajahnya sendiri. Janji itu harus ditepati, jangan dialihkan ke pihak lain,” tegas Aldo.
Menurut Aldo yang juga Ketua Asrama Huyula Manado, mahasiswa Gorontalo di berbagai daerah lebih membutuhkan kerja nyata daripada retorika.
“Kami di cabang melihat langsung bagaimana sulitnya mahasiswa mencari tempat tinggal. PB HPMIG seharusnya hadir dengan solusi, bukan berlindung di balik alasan pemerintah tidak peduli,” tambahnya.
Aldo menegaskan, menyalahkan pemerintah tanpa upaya internal justru akan memperlemah marwah organisasi.
“Kalau PB tidak mampu menjalankan janji, maka harus berani jujur dan koreksi diri. Jangan menutupi kelemahan dengan melempar tanggung jawab. Itu bukan watak kepemimpinan, tapi bentuk kegagalan,” tuturnya.
Kini, mahasiswa Gorontalo menunggu bukti nyata kepemimpinan Refa Koniyo. Janji asrama permanen yang pernah diucapkan di forum tertinggi organisasi menjadi hutang moral yang tak bisa dihapus hanya dengan menyalahkan pihak lain.


